Jalan Mudji Romo Mudji Sutrisno

INDOSERA.com – Prof FX Mudji Sutrisno SJ meninggal. Kabar meninggalnya tersiar di grup WA. Lalu disusul ucapan dukacita dari berbagai kalangan. Di media sosial yang lain, juga ramai. Orang-orang mengucap duka. Ada pula share jadwal lengkap requiemnya, hingga pemakaman.

Wajar, kalau kabar Romo Mudji berpulang dapat respon dari banyak orang. Namanya cukup mentereng. Selain, sebagai romo dari kelompok Jesuit Indonesia (SJ), ia juga dosen. Ia rutin mengajar filsafat di STF Driyarkara, Universitas Indonesia, dan sejumlah kampus lain.

Di STF Driyarkara, Romo Mudji kerap mengampuh mata kuliah Filsafat Timur. Itu spesialisasinya. Kalau sudah ngajar filsafat timur, satu papan tulis bisa penuh tulisan. Saya pernah diasuh Romo Mudji, di kelas Filsafat Timur I dan Filsafat Timur II, STF Driyarkara. Gaya mengajarnya unik, nyentrik, dan tak lelah bicara sepanjang kelas berlangsung.

Kalau sudah omong Indonesia, selalu all-out. Bicara dari spirit founding fathers, kebhinnekaan, peta perjalanan Indonesia, hingga realitas Indonesia terkini. Tak sungkan lancarkan kritik ke pemerintah, tapi lebih banyak muji. Tapi, tentu yang dipuji adalah hal positif dan logis.

Sejauh saya tahu, Romo Mudji memang banyak terlibat di pemerintahan. Ia pernah jadi anggota Komisi Pemilihan Umum RI (2001-2003). Juga, menduduki jabatan nasional lainnya. Terbaru, Romo Mudji jadi bagian dari Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) era Prabowo-Gibran. Karena tugas ini, namanya ikut digunjingkan ketika Soeharto digelari Pahlawan Nasional.

Di bidang budaya, jangan tanya. Romo Mudji banyak melahirkan karya seputar kebudayaan. Tulisan-tulisan lepasnya bertebaran di berbagai media nasional. Ia terlibat juga dalam sejumlah proyek kebudayaan.

Sekitar 10 tahun terakhir, Romo Mudji aktif menggambar sketsa. Lalu, beberapa kali bikin pameran sketsa. Pada sebuah kesempatan pameran sketsa di “TIM Lama”, ia berkisah, semua hal terkait pameran, ia kerjakan sendiri. Dia yang bikin sketsa, mikirin pameran, hingga cari ongkos pameran. Semua saya lakukan sendiri, katanya. Dan kegiatan seperti ini berulang kali ia lakukan.

Sebagai imam, saya pikir, Romo Mudji sudah memilih “jalan” berbeda dari imam pada umumnya. Kalau imam-imam lain berkarya di paroki, pendidikan, atau lembaga sosial lainnya, Romo Mudji memilih berkarya di jalur mandiri. Ia terlibat dalam beragam aktivitas, yang mungkin malah dihindari imam lain. Syukur, tarekat yang menaunginya, Serikat Jesus, bukakan jalan.

Pilihan Romo Mudji, yang saya sebut sebagai Jalan Mudji ini hanya segelintir di Indonesia. Tidak banyak romo yang mau ambil jalan itu. Kalau pun banyak yang coba, tidak sedikit yang mental. Termasuk lepas jubah. Tapi Romo Mudji membuktikan, setia pada imamat dan jalan yang ia pilih sampai akhir hayat. Terima kasih Romo. Berharap, jalan Mudji bisa jadi peta jalan dan kompas buat imam-imam selanjutnya.

Views: 44

Spread the love